Senin, 2008 Juli 21

KEPADA YANG dan AKAN SARJANA

Seorang mencari surat kabar

kelahiran dua hari lalu

disayapi dua teman

karena mungkin bertemu sabtu minggu saja

Si Keong, pindahan dari bangku kuliah ke kursi kantor

Si Siput, beberapa bulan lalu bebas dari pejara akademik

Si Badak masih diatur roster matakuliah

‘kerja’, ‘sarjana’ dan ‘kuliah’, begitu pencapan orang

Yang benar adalah :

‘mantan pengangguran’, ‘pengangguran’ dan ‘calon pengangguran’

100708

---badak---

Jumat, 2008 Mei 30

Kata Pengantar beda Bukan Kriminal Kan....!!!!!!!!!!!!!!!!!!

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh

Menulis adalah perjalanan menuju suatu kelahiran.

Karya yang dilahirkan ibarat air nan bergulir bebas di lereng perasaan dan pikiran. Ia dapat tertahan di semak. Ia bisa hinggap di akar yang merambat. Namun ia juga bisa menggelinding lancar untuk melebur dalam samudera luas. Tak ada yang dapat menghitung berapa ceruk di lereng itu. Tak ada yang tahu seberapa gerah tertumbuhannya di sana

Ia hanya akan mengalir….sebisanya.

Tak ada kekuatan maha dasyat yang mampu membuat semua dinamika dalam menulis itu tumbuh selain kekuatan Yang Maha Memiliki ALLAH Azizah Wa Jalla. Ia memberikan kekuatan pada seluruh dunia bahwa menulis adalah perjalanan yang hakiki, nafas yang tidak lagi berpangkal, dariNya-lah tulisan ini bersumber. Terkemuflase atas nama kekuatan pena…

Lalu, inilah saatnya hati membungkuk, menghamba pada kerelaan hati untuk mengucapkan lantunan terimakasih. Kepada kalianlah karya ini berasal dan bermuara;

1. Keluarga. Tak akan pernah putus doa untuk kalian. Bahwa kalimat terjujur adalah apa yang belum terilham sebagai kata. Ia mati dalam senyap, namun sejuta makna bergelut di dalamnya. Dengan suka cita, terimakasih ini mengharu-biru untukmu ibu. Untuk semua hal yang kau berikan padaku, untuk semua do’a yang dijabah olehNya, hanya bagimu ibu air mata bahagia ini mengalir. Kemudian sesak bahagia ini bermuara pada kasih Ayah yang selalu melindungi dengan sorot mata teduhnya, darinyalah ketenangan itu menyeruak. Lalu di ujung sungai bahagia ini ada dua adikku (Fachri Kurnia Bhakti dan Rendra Zulmi Febrianto Farera) yang selalu memberi arti tak tergantikan. Kalian mahluk sedarah yang aku cintai. Dan ijinkan aku tersungkur sekali lagi bersama bilur cinta dengan mengingat kalian….

2. Malaikat berubanku. Tahukah kau bahwa hati ini melekat bersama jiwamu? Bahwa cucumu ini tak lagi mampu mengungkapkan terimakasihnya dengan kata. Aqra sudah lulus nek, dan rasanya tak ingin berbuat apa-apa lagi, hanya ingin ada di dekatmu, menjagamu. Seperti yang kau lakukan dulu, menjagaku waktu kecil. Membesarkanku dalam rasa aman. Dan sekarang lihatlah, cucu kecilmu ini sudah bergeliat sendiri. Semuanya berkatmu nek.

3. Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin beserta Pembantu Dekan I, Pembantu Dekan II dan Pembantu Dekan III yang meskipun tidak secara langsung namun memberi banyak kontribusi terhadap penulis selama menjalani masa perkuliahan di Fakultas Hukum. Kepada beliaulah penulis berterimakasih.

4. Kepada Bapak S.M. Noor S.H., M.H. selaku Pembimbing I dan Bapak Maskun, S.H., LL.M. selaku Pembimbing II. Kepada mereka saya mengucapkan terimaksih yang tak terhingga. Atas semua waktu, bimbingannya, masukannya dan sikap “ngemong” yang membuat saya lebih termotivasi dalam menyelesaikan karya tulis ini. Juga atas maklumatnya terhadap keterbatasan saya selaku mahasiswa. Sekali lagi terimakasih dari hati saya ucapkan.

5. Dosen-dosen bagian Hukum Internasional, Prof. Alma Manuputty, S.H., M.H., Ibu Inneke Lihawa, S.H.,M.H., Pak Albert Lakollo, S.H.,M.H., Pak Masbaah Magasing, S.H., M.H., Pak La Ode Abdul Gani, S.H., M.H., Pak Abdul Rasal Rauf, S.H., M.H, Pak La Ode M. Syarif, Ibu Iin Sakarina, S.H.,M.H., Ibu Sutra, S.H.,LL.M, dan Ibu Birkah Latief, S.H. tak akan pernah cukup rasa terimakasih ini terucap untuk semua apa yang telah beliau-beliau berikan.

6. Semua dosen Fakultas Hukum UNHAS tak terkecuali yang namanya tak sempat penulis sebutkan satu per satu. Namun hal tersebut tidak mengurangi rasa hormat dan terimakasih penulis.

7. Untuk GK (Asriany GK, Nurhidayah GK, Asbiah GK, Fauziah GK, Rachmadian GK, Diah Sarita GK, dan Muthmainnah GK). Kita memang terpisah jarak dan tempat. Namun akan selalu ada cinta dan cita yang merekatkan kita. Karena kalian adalah bagian dari hati yang tak akan pernah terlupa. Kalian bukan kenangan, kalian adalah wajah yang memberi banyak makna dalam evolusi detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan jam menjadi hari. Kalian adalah warna dalam hari-hari itu dan akan selalu hidup di tempat tak terjamah dalam hati penulis.

8. Untuk patner hatiku. Terimakasih ini bersenandung. Inayah Mangkulla atas semua kekonyolan yang berujung pada tawa, untuk semua filosofi hidup yang kau perlihatkan, dan untuk semua dunia baru yang kau ajarkan (termasuk ngeblog di Multiply, hihihi). Kau punya banyak ruang di batok kepalaku, dan akan selalu begitu. Dewi Hidayati, si penyemangat yang tak pernah lelah, aku selalu kehabisan kata-kata untuk menggambarkanmu, mungkin terimakasih tak akan pernah cukup di’ wi’? Syarkia Mansyur, S.H. atas semua nasehat yang kadang olehku selalu tersepelekan, untuk semua diskusi “terpintar” yang kukira hanya kita berdua yang memilikinya, untuk semua jengkal ilmu yang kau jejakkan untukku, terimakasih ini tak akan pernah cukup, percayalah. Terakhir, patner hati yang selalu ngilang…hehehe…Asrawaty Purnama Satrya Negara, kau adalah sahabat yang memberi banyak arti, dalam ketidakberpihakanmu pada cerita aku menemukan banyak interprestasi tentang persahabatan kita. Kita tak perlu banyak waktu bersama, tapi aku yakin persahabatan kita ada. Patner hati, semoga kalian tak akan pernah lelah mengikutiku si siput yang selalu ngaret ini.

9. Untuk teman berbagi mimpiku. Henny Amir, kau adalah sumbu dalam kegamanganku, kau selalu mampu membuat hati berderai gerimis tawa. Suci Megawati, mungkin suatu saat aku akan berubah jahat dan mencuri semua semangatmu itu.

10. Teman-teman KKN yang tak pernah lapuk oleh waktu. Nur Qalbi, Pandu setiawan, Arnita, Dimitri, Sri Reski Amelia, Reza Alamsyah, Winda Triana, Itcianday, Sultan Hasanuddin, Amri Mapakkaya, Putri Ayu, Nur Fajri dan kak Deddy. Kita pernah melalui saat yang tak terlupakan kawan.

11. Semua anak-anak ANNISA, tidakkah kalian rindu bertemu “mak lampir” itu? Iya, aku rindu... tapi tak serindu bertemu kalian. Terimakasih atas semua kebaikannya Annisa Eka Fatmawati, Annisa Andi Nur Rahmah Ramli, Annisa Nani Anggraini, Annisa Kiky, Annisa Rabbiatul Wahdaniyah, Annisa Hasmayanti, Annisa Ulfa Seband (kau adalah sahabat yang tak akan terlupa), dan Annisa Mira Chivanda Putri (si peri periang yang selalu datang dengan kebahagian, aku rindu begadang semalaman suntuk bersamamau van…bercerita tentang kehebatan islam yang membuat bulu kuduk kita berdiri dan kemudian kita cepat-cepat solat subuh!!heheh).

12. Semua SAKSI angkatan 2004 yang tidak sempat penulis sebutkan.

13. Untuk patner mayaku, ALFIN WIJAYA yang sekarang terdampar di Perth Australia. Kita terpisah banyak hal Fin, jarak, waktu, dan umur. Namun saat bercerita aku merasa seperti dua keping koin identik yang entah terpisah oleh apa kembali bertemu dalam suasana syahdu, dan mulailah cerita itu mengalir. Terimakasih…semangatmu mendekatkan kita lebih dari sebelumnya. Mungkin suatu hari kita bisa bertemu. Biar yang Maha Pintar yang mengaturnya. AMIN.

14. Bang Arham Kendari. Meskipun konyol, tapi Bang Arham sangat layak mendengar senandung terimakasih ini. Penulis terlalu sering sekarat bersama jenuh saat harus begadang bersama skripsi yang jauh dari kelar. Kemudian benak menuntun, mendongkrak semangat dengan bergerilya liar di Multiply Bang Arham. Terima kasih Bang, terlalu banyak senyum yang dipatenkan mukaku saat bergelut bersama abjad demi abjad di site Multiply Bang Arham. Terimakasih sekali lagi.

15. Untuk Malaikat Tukang Ketawa Yang Manis. Tak ada kalimat-kalimat ajaib untukmu. Kau terlalu rumit untuk diutarakan. Hanya ada kalimat sepi. Bukankah kita akan selalu berdamai dalam senyap? Kata tak mampu lagi memaknaimu, tapi hati. Biarkan hati itu yang menuntun.

Sejuta teori akan datang dan pergi, sejuta kisah akan datang mengilhami, namun ada satu anak kunci yang menetap abadi: Sang Kekasih Hati, yang melalui cerminNya telah mempertemukan kita kembali dengan syukur. BagiNyalah, saya persembahkan karya ini.

Dan sekarang ijinkanlah saya tersungkur redam dalam rasa cinta…

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh

Makassar 15 MEI 2008

Penulis



*hayo...mirip ma siapa kata pengantarnya?hehe...yang nebak kukasih coklat deh...

heheh...ini untuk badak, keong dan siput!! rindu euy...

Jumat, 2008 Mei 23

GOMBALANku buat KEONG

“Setiap kau sampai pada hujan

buatlah payung dari tangan-tangan perempuan”(setiap sampai pada hujan, Aan Mansyur)


Akan kulanjutkan sajaknya….


Aku hanya ingin tangan-tanganmu, perempuan malaikatku…


-Pangeran Badak-




NB : KEONG, kamu kok baik sekali?

Ohohohoh! Sepertinya Pangeran jatuh cinta pada dua orang perempuan. Satu yang begitu bermanja kepadaku, satunya lagi berhati malaikat… Akankah saya berpoligami?

GOMBALANku buat SIPUT

Pangeran : “Ayo kita duduk-duduk sebentar!”

Putri : “Buat apa? Ini sudah malam Dak! Tidak ada becak nanti!”

Pangeran : “Kita lihat bulan dulu… (sambil menunjuk ke atas!) Kapan lagi kita berdua seperti ini. Kita tak lama lagi akan berpisah”

Putri : “Iya sih… Bulannya indah!”

Pangeran : (menoleh ke wajah Putri, tersenyum)

Putri : “Kenapa lu? Kayak orang gila! Atau ada yang lucu dengan mukaku?”

Pangeran : (tetap tersenyum, diam)

Putri : “Oh… kau menertawai jerawatku yah! Hu…hu…hu…!” (sambil memukulku!)

Dua-duanya terdiam… Pangeran masih melihat ke wajah Putri yang terus menutupi hidungnya yang menjelma mancung karena jerawat.

Pangeran : (tertawa kecil!) “Sungguh, lebih indah melihat purnama itu dari matamu!”

Rabu, 2008 Mei 07

KELAKAR Pangeran

PENASEHAT keong

Spesies yang punya banyak teman, dia supel. Melindungi teman-temannya, selalu ada saat diperlukan. Suka menolong… terkadang kasihan melihatnya dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak (terlalu) bertanggungjawab.

OPINI Pangeran : KEONG… teman superbaik. Sekali-sekali belajarlah untuk berkata ‘tidak’.


PUTRI siput

Makhluk merayap, begitu tenang dan (damai?). Suka memakai warna putih (PUTri siPUT yang pakai baju PUTih). Makanan utama tehkotak. Tidak bisa sendirian kalau pergi kemana-mana…

OPINI Pangeran : SIPUT tuh gak suka banyak formalitas. Lebaran gak perlu perlu jabat tangan atau cipika cipika. Karena mata kami sudah berpelukan saling memaafkan…


PANGERAN badak

Jenis yang sangat langka di dunia, badak ber’cangkang’. Lebih suka menikmati kesendirian. Favorit terhadap warna hitam, putih dan warna gelap lainnya (“ay het pink” katanya!). Sering ngantuk di kelas. Suka bolos…

OPINI Pangeran : gak asik ah berpendapat mengenai diri sendiri.

Eforia Nisan Kejujuran

siput

Rupanya tak ada yang bisa lagi dipertahankan di sini. Yang namanya kejujuran entah sudah melapuk, busuk dan terlupa. Sedari tadi aku mencarinya. Tapi tak ujung jua nampaknya kudapat. Entah karena borok di mataku atau wujudnya sudah demikian usang untuk dikenal lagi. Yang sedari tadi bercokol hanya dia. Dengan garang matanya yang menohok ia mengamatiku. Aku layu dalam rasa sendiri, ia kini sudah hilang. Tak tahu ke mana. Bosan rasanya harus mengeruk idealisme yang didiktatori oleh nadi-nadi kenaifan sendiri. Aku butuh dia. Dan sekarang ia sudah musnah ditelan, terkemuflase sebagai nisan dalam sejarah. Sejarah dalam tanda kutip “Tidak untuk diingat”.

Sudah lama aku di sini. Menunggu tanpa kata. Hanya mataku yang sedemikian jelalatan menyapu tiap sudut. Tapi aku tetap luput dari dia. Mataku sudah begitu mendambanya. Sekian waktu sudah kulewati tanpa cengkrama dengannya. Tanpa hangatnya bauran rasa. Kini aku mencarinya di sini. Tapi hasilnya nihil. Ia mungkin masih enggan tuk tampak. Kian tak terjamahlah ia dari jangkauannku. Sungguh kami dulu adalah dua keping yang berbeda yang entah atas kuasa siapa bisa beronani pada titik yang sama. Itu dulu. Sekarang kami benar-benar adalah dua keping yang terpisah tanpa bisa bergulat lagi pada titik yang sama. Kami sudah terpisah oleh medernisasi.

Kata mereka, sahabatku itu telah larut pada kata musnah. Terhenyak pada bingkai kata terbuang. Ia malu kini menampakkan mukanya. Tapi entah kenapa aku terus saja menantinya. Pelik rasanya terus begini. Berada pada ruang asing tanpa ada satu halpun yang dikenal. Seperti itu aku sekarang. Sendiri bertempur dengan arus tak bertepiku yang ganas. Entah itu harus kupanggil rasa takut atau rasa kehilangan. Mungkin keduanya.

Aku masih mencarinya. Menepikan mataku pada sosoknya yang mungkin ada di sini. Tak ada hasil. Yang kulihat hanyalah mereka yang sedang sedu sedan bersama lolongan girang tak terhingga. Aku mengenal salah satu dari mereka. Tapi lidahku menolak mengeja abjad namanya. Ia terlalu garang untuk ku sebut. Mata kami sempat bergulat pada detik yang lalu. Tapi buru-buru kualihkan. Aku tak berani membiarkan retinaku terkoyak bara matanya. Ia adalah sosok asing yang bersebrangan dengan kami. Aku dan sahabatku.

Mata kami kembali beradu. Syahdu nian suasana hening itu. Tapi kemudian berjingkaklah aroma kebahagiaan yang sangat. Aku tak berani menepikan tatapanku di retina matanya lagi. Tak sanggup. Ia kelihatan sangat bahagia. Mata garangnya tak henti mengerjap. Sungguh ia sangat bahagia. Tapi saat ia menatapku, sepersekian detik ia meratap lalu berucap bengis tanpa intonasi.

“Lupalah kau pada dia!!! Seperti kami yang sudah membuang ia ke tempat tak bertepi. Jangan lagi kau ingat dia. Kini kau sendiri….ha..ha..ha..”. tawa itu membuat ulu hatiku beringsut tidak karuan. Ia menjerit tak terkira. Memang aku benar-benar sendiri sekarang. Limbung di sudut pengap tanya. Tanya yang tak pernah akan terjawab. Mungkin aku juga harus mempersiapkan nisanku sedari kini.

“Benar. Kami sedang merayakan semarak hari ini. Sebuah eforia nisan kejujuran. Tak akan ada lagi dia di sini. Sungguh ini adalah kemenangan sepanjang waktu….” Ucap yang lainnya masih dalam satu frame kebahagiaan. Aku tak mengenalnya. Tapi ia sama-sama merayakan kepergian sahabatku. Aku semakin terbuang di celah pikiranku sendiri yang semakin sempit. Sungguh tak adakah yang tersayat ibanya saat dia telah pergi?

“Ha..ha..ha iba?!!!” tiba-tiba ia kembali bersuara. Sunguh aku tak bisa mencegah rasa kagetku menari di ubun. Ia tahu hatiku menyeruak. Ia tahu fikiranku mengagas. Ia telah meraja di tiap jengkal nafasku. “Tak ada yang iba padanya. Ia sudah lama menjadi tameng tak berperasaan bagi para manusia modern. Ia sudah menjadi idealisme terbuang yang sudah tidak layak lagi…..dan kukatakan padamu sebaiknya mulailah meretas pada perubahan ini supaya kami tak perlu lagi menari-nari di atas nisanmu seperti dia.”

Aku semakin tersungkur. Membayangkan mereka membahak di atas nisanku kelak membuat jari-jari semangatku kerdil. Haruskah manusia kutinggal dengan hati yang benar-benar telanjang?! Tak berbalut apapun. Sekarang saja mereka sudah sedemikian asing dengan sahabatku yang baru pergi sekian waktu yang lampau. Bagaimana jika aku juga menjadi bagian dari sejarah dengan sejuta kutip itu? Lalu apakah mereka benar-benar harus beralih pada si pemilik tatapan garang itu. Sungguh aku tak sanggup membayangkan hal itu. Aku harus membangun optimismeku yang tercekat bersama pekat. Yang menyungsep tanpa wujud. Aku harus membangunkannya.

“Kenapa kau diam? Sungguh tak masukkah semua kata-kataku dalam pikirmu?” ia kembali berkelakar. Masih tanpa intonasi jelas. Aku tersadar . Dengan rasa gamang yang sangat aku menantang matanya. Mencoba menyusun kata yang bisa membuat ia yakin aku masih bisa ada meski tanpa sahabatku….toh dengan aku saja mungkin sudah cukup……….

“Mereka memang sudah mulai kehilangan semuanya. Kalianlah yang menjadi raja diraja dari mereka. Tapi bukan berarti aku harus merelakan semuanya pada kalian. Sungguh jangan pernah berfikir demikian karena hal itu tak akan terjadi.” Dengan sedikit keberanian aku bertuah. Menyembunyikan rasa kecewa yang terus menggeliat di balik hatiku. Jangan sampai ia tahu itu. Ia akan merasa menang nantinya. Tapi sungguh itu hal yang mustahil. Bagaimana mungkin aku bisa menyembunyikan rasa kecewaku, sedang manusia sekarang benar-benar sudah tak mengenal kami lagi!!!!! Pada akhirnya merekalah yang akan menggiring kami pada nisan sejarah. Sebuah sejarah yang tak punya tempat di kepala mereka untuk diingat lagi.

“Mungkin kau memang tak akan pernah merelakan hal itu terjadi. Tapi bukankah temanmu itu terlupa dengan sendirinya?!! Dan ia tak bisa menghindar karena manusialah yang menghendaki. Dak kamilah yang pada akhirnya menjadi tameng hidup mereka, panutan dalam segala hal….,kalian benar-benar telah terlupa.” Ia mencibirku. Membuatku semakin kehilangan rasa optimis yang mungkin sekarang sudah menguap. Ia benar. Manusialah yang mau begitu. Kami hanya pilihan. Tak bisa ngotot untuk dipilih. Manusia-manusia itu tetap tonggak segalanya.

“Rupanya kini kau mengerti” ia bersuara lagi. Aku tenggelam dalam desahannku. Ia kelihatan sangat puas.

“Aku sangat tahu merekalah yang jadi penentu segalanya. Kami hanyalah salah satu pilihan dalam sekian banyak pilihan yang mereka punya dalam hidup mereka. Tapi bukankah jauh lebih baik menjadi pilihan yang akan tetap ada daripada menjadi onggokan terbuang. Aku tak mau terbuang. Aku akan tetap ada meskipun hanya segelintir dari orang-orang itu yang memilih aku.” Aku mendesis. Kata-kataku membuatnya menekuk muka.

“Mungkin kau memang tak akan musnah dalam artian yang sesungguhnya. Tapi kau akan tetap menjadi pilihan bagi mereka yang tak akan pernah terpilih. Bukankah hal itu lebih mengecewakan.” Ucapnya tanpa membiarkan mataku beralih kemana-mana. “ Sudahlah, jangan kau gamang dalam tunggumu yang tak bertepi itu. Mari larut bersama kami dan rayakan kematian sahabatmu itu. Dan tentu kau akan kembali menjadi pilihan terpilih dalam hidup para manusia.. tapi syaratnya kau harus jadi bagian dari kami” Ia menawarkan ku sesuatu yang sangat mustahil. Aku menggeleng tegas. Lebih baik aku menangis di atas nisanku sendiri ketimbang harus merayakan eforia itu di atas nisan sahabatku. Lagi pula aku masih percaya aku dan sahabatku masih dibutuhkan, mungkin waktu mendatang….kami akan selalu percaya itu. Aku membatin dalam bimbang ragaku.

“Maka berdirilah dalam tempat terbuang itu.” Ucap si pemilik mata garang itu. Sekali lagi ia menelanjangi pikiranku. Ia kemudian pergi. Ia dan semua perayaan itu. Sekarang aku tinggal sendiri di depan nisan yang masih menyisakan sejumput sedih di kelopak mataku.. Iya, panggillah aku si goblok karena masih menunggu si empunya nisan untuk bangkit.. Mereka menamainya KEJUJURAN dan aku mereka panggil dengan sebutan KEADILAN. Sedangkan aku dan sahabatku menamai mereka KESERAKAHAN.

Lalu tanyakanlah padaku segera seolah kalian terseok dalam bimbang! Memangnnya tanpa kejujuran mana ada keadilan ?!!! Terlalu naïf rasanya mengadu keadilan dan keserakahan. Jika kejujuran mati maka semuanya juga akan mati!!! Aku yang kalian panggil keadilan ini baru akan ada jika temanku yang kupanggil kejujuran itu ada, karena semuanya dimulai dari situ! Lalu jangan menuntut aku yang kalian panggil Keadilan ini ada jika jauh hari yang lalu kalian manusia sudah binal membunuh ‘Kejujuran’!!!!!!!

Aku mulai meratap pedih memikirkannya. Aku di sini hanya menunggu mati saja bukan? Dan malaikat pun menangis untukku….

Di suatu waktu dan dimensi lain….

“Kenapa mamak tidak ikut makan?” Abidin, bocah berusia 7 tahun berucap lirih pada ibunya. Sementara sang ibu hanya menggeleng lembut. Wanita kurus dengan mata cekung itu jelas tahu nasi yang hampir basi itu tidak akan cukup menyanggah perutnya dan perut anaknya. Ia lebih memilih bergulat dengah perih yang sangat di perutnya ketimbang melihat Abidin anaknya berbalut rasa lapar.

“abi makan saja, mamak belum lapar.” Ucapnya kemudian setengah mendesis. Bukannya abidin tak tahu mamaknya juga perlu makan, tetapi ia tahu mamaknya tak akan mau menyentuh sebutir nasi pun jika ia tidak kenyang terlebih dahulu. Abidin sangat ingin berpura-pura kenyang supaya mamak juga bisa makan dengan lega, tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa lapar di perutnya. Seketika abidin merasa sangat durhaka pada mamak. Ia pun mengaduh dalam tiap suapan nasi yang tak seberapa itu.

Abidin dan mamaknya tinggal sebuah gubuk reot

7-05-2008

Manusia

SIPUT

Manusia itu belang-belang

Remang, jalang…….

.............................senyap..................

.................pekat................merayap.........

Hey, ayo kemari

Nari dengan safari

Gelisah yang mengubun

Penat menjalar tanpa sekat

Manusia tersungkur bilur

Kapan kita lari?

Terlalu terjal untuk menengadah

Seok bersama gamang

Ah... manusia remang, memang

Bersama remah-remah hasrat

Cepat tidur katanya pada malam

Besok siang siap dijajaki

Bergelut geliat lidah yang binal

Kembali pada titik, beronani bersama nol

Manusia memang jalang

Ssttt jangan ada bunyi

Biar sunyi menyayat sampai tumpul

Kemarin kata itu kemuflase ”iya”

Sekarang bukan........

”iya” itu terdikotomi

Menjadi ”tidak”

Berubah tergantung keadaan

Manusia juga belang-belang

rupanya.........

Selalu ada ruang untuk sedu

Entah itu di batok kepala

Pekat terlipat senyap

Ataukah dari sudut rapuh hati?

Manusia memang gamang

Pufh...apa manusia itu terlalu..

Untuk dibicarakan selalu..

Sampai lidah terkutuk kelu…??

Posting Lama