KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh
Menulis adalah perjalanan menuju suatu kelahiran.
Karya yang dilahirkan ibarat air nan bergulir bebas di lereng perasaan dan pikiran. Ia dapat tertahan di semak. Ia bisa hinggap di akar yang merambat. Namun ia juga bisa menggelinding lancar untuk melebur dalam samudera luas. Tak ada yang dapat menghitung berapa ceruk di lereng itu. Tak ada yang tahu seberapa gerah tertumbuhannya di sana…
Ia hanya akan mengalir….sebisanya.
Tak ada kekuatan maha dasyat yang mampu membuat semua dinamika dalam menulis itu tumbuh selain kekuatan Yang Maha Memiliki ALLAH Azizah Wa Jalla. Ia memberikan kekuatan pada seluruh dunia bahwa menulis adalah perjalanan yang hakiki, nafas yang tidak lagi berpangkal, dariNya-lah tulisan ini bersumber. Terkemuflase atas nama kekuatan pena…
Lalu, inilah saatnya hati membungkuk, menghamba pada kerelaan hati untuk mengucapkan lantunan terimakasih. Kepada kalianlah karya ini berasal dan bermuara;
1. Keluarga. Tak akan pernah putus doa untuk kalian. Bahwa kalimat terjujur adalah apa yang belum terilham sebagai kata. Ia mati dalam senyap, namun sejuta makna bergelut di dalamnya. Dengan suka cita, terimakasih ini mengharu-biru untukmu ibu. Untuk semua hal yang kau berikan padaku, untuk semua do’a yang dijabah olehNya, hanya bagimu ibu air mata bahagia ini mengalir. Kemudian sesak bahagia ini bermuara pada kasih Ayah yang selalu melindungi dengan sorot mata teduhnya, darinyalah ketenangan itu menyeruak. Lalu di ujung sungai bahagia ini ada dua adikku (Fachri Kurnia Bhakti dan Rendra Zulmi Febrianto Farera) yang selalu memberi arti tak tergantikan. Kalian mahluk sedarah yang aku cintai. Dan ijinkan aku tersungkur sekali lagi bersama bilur cinta dengan mengingat kalian….
2. Malaikat berubanku. Tahukah kau bahwa hati ini melekat bersama jiwamu? Bahwa cucumu ini tak lagi mampu mengungkapkan terimakasihnya dengan kata. Aqra sudah lulus nek, dan rasanya tak ingin berbuat apa-apa lagi, hanya ingin ada di dekatmu, menjagamu. Seperti yang kau lakukan dulu, menjagaku waktu kecil. Membesarkanku dalam rasa aman. Dan sekarang lihatlah, cucu kecilmu ini sudah bergeliat sendiri. Semuanya berkatmu nek.
3. Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin beserta Pembantu Dekan I, Pembantu Dekan II dan Pembantu Dekan III yang meskipun tidak secara langsung namun memberi banyak kontribusi terhadap penulis selama menjalani masa perkuliahan di Fakultas Hukum. Kepada beliaulah penulis berterimakasih.
4. Kepada Bapak S.M. Noor S.H., M.H. selaku Pembimbing I dan Bapak Maskun, S.H., LL.M. selaku Pembimbing II. Kepada mereka saya mengucapkan terimaksih yang tak terhingga. Atas semua waktu, bimbingannya, masukannya dan sikap “ngemong” yang membuat saya lebih termotivasi dalam menyelesaikan karya tulis ini. Juga atas maklumatnya terhadap keterbatasan saya selaku mahasiswa. Sekali lagi terimakasih dari hati saya ucapkan.
5. Dosen-dosen bagian Hukum Internasional, Prof. Alma Manuputty, S.H., M.H., Ibu Inneke Lihawa, S.H.,M.H., Pak Albert Lakollo, S.H.,M.H., Pak Masbaah Magasing, S.H., M.H., Pak La Ode Abdul Gani, S.H., M.H., Pak Abdul Rasal Rauf, S.H., M.H, Pak La Ode M. Syarif, Ibu Iin Sakarina, S.H.,M.H., Ibu Sutra, S.H.,LL.M, dan Ibu Birkah Latief, S.H. tak akan pernah cukup rasa terimakasih ini terucap untuk semua apa yang telah beliau-beliau berikan.
6. Semua dosen Fakultas Hukum UNHAS tak terkecuali yang namanya tak sempat penulis sebutkan satu per satu. Namun hal tersebut tidak mengurangi rasa hormat dan terimakasih penulis.
7. Untuk GK (Asriany GK, Nurhidayah GK, Asbiah GK, Fauziah GK, Rachmadian GK, Diah Sarita GK, dan Muthmainnah GK). Kita memang terpisah jarak dan tempat. Namun akan selalu ada cinta dan cita yang merekatkan kita. Karena kalian adalah bagian dari hati yang tak akan pernah terlupa. Kalian bukan kenangan, kalian adalah wajah yang memberi banyak makna dalam evolusi detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan jam menjadi hari. Kalian adalah warna dalam hari-hari itu dan akan selalu hidup di tempat tak terjamah dalam hati penulis.
8. Untuk patner hatiku. Terimakasih ini bersenandung. Inayah Mangkulla atas semua kekonyolan yang berujung pada tawa, untuk semua filosofi hidup yang kau perlihatkan, dan untuk semua dunia baru yang kau ajarkan (termasuk ngeblog di Multiply, hihihi). Kau punya banyak ruang di batok kepalaku, dan akan selalu begitu. Dewi Hidayati, si penyemangat yang tak pernah lelah, aku selalu kehabisan kata-kata untuk menggambarkanmu, mungkin terimakasih tak akan pernah cukup di’ wi’? Syarkia Mansyur, S.H. atas semua nasehat yang kadang olehku selalu tersepelekan, untuk semua diskusi “terpintar” yang kukira hanya kita berdua yang memilikinya, untuk semua jengkal ilmu yang kau jejakkan untukku, terimakasih ini tak akan pernah cukup, percayalah. Terakhir, patner hati yang selalu ngilang…hehehe…Asrawaty Purnama Satrya Negara, kau adalah sahabat yang memberi banyak arti, dalam ketidakberpihakanmu pada cerita aku menemukan banyak interprestasi tentang persahabatan kita. Kita tak perlu banyak waktu bersama, tapi aku yakin persahabatan kita ada. Patner hati, semoga kalian tak akan pernah lelah mengikutiku si siput yang selalu ngaret ini.
9. Untuk teman berbagi mimpiku. Henny Amir, kau adalah sumbu dalam kegamanganku, kau selalu mampu membuat hati berderai gerimis tawa. Suci Megawati, mungkin suatu saat aku akan berubah jahat dan mencuri semua semangatmu itu.
10. Teman-teman KKN yang tak pernah lapuk oleh waktu. Nur Qalbi, Pandu setiawan, Arnita, Dimitri, Sri Reski Amelia, Reza Alamsyah, Winda Triana, Itcianday, Sultan Hasanuddin, Amri Mapakkaya, Putri Ayu, Nur Fajri dan kak Deddy. Kita pernah melalui saat yang tak terlupakan kawan.
11. Semua anak-anak ANNISA, tidakkah kalian rindu bertemu “mak lampir” itu? Iya, aku rindu... tapi tak serindu bertemu kalian. Terimakasih atas semua kebaikannya Annisa Eka Fatmawati, Annisa Andi Nur Rahmah Ramli, Annisa Nani Anggraini, Annisa Kiky, Annisa Rabbiatul Wahdaniyah, Annisa Hasmayanti, Annisa Ulfa Seband (kau adalah sahabat yang tak akan terlupa), dan Annisa Mira Chivanda Putri (si peri periang yang selalu datang dengan kebahagian, aku rindu begadang semalaman suntuk bersamamau van…bercerita tentang kehebatan islam yang membuat bulu kuduk kita berdiri dan kemudian kita cepat-cepat solat subuh!!heheh).
12. Semua SAKSI angkatan 2004 yang tidak sempat penulis sebutkan.
13. Untuk patner mayaku, ALFIN WIJAYA yang sekarang terdampar di Perth Australia. Kita terpisah banyak hal Fin, jarak, waktu, dan umur. Namun saat bercerita aku merasa seperti dua keping koin identik yang entah terpisah oleh apa kembali bertemu dalam suasana syahdu, dan mulailah cerita itu mengalir. Terimakasih…semangatmu mendekatkan kita lebih dari sebelumnya. Mungkin suatu hari kita bisa bertemu. Biar yang Maha Pintar yang mengaturnya. AMIN.
14. Bang Arham Kendari. Meskipun konyol, tapi Bang Arham sangat layak mendengar senandung terimakasih ini. Penulis terlalu sering sekarat bersama jenuh saat harus begadang bersama skripsi yang jauh dari kelar. Kemudian benak menuntun, mendongkrak semangat dengan bergerilya liar di Multiply Bang Arham. Terima kasih Bang, terlalu banyak senyum yang dipatenkan mukaku saat bergelut bersama abjad demi abjad di site Multiply Bang Arham. Terimakasih sekali lagi.
15. Untuk Malaikat Tukang Ketawa Yang Manis. Tak ada kalimat-kalimat ajaib untukmu. Kau terlalu rumit untuk diutarakan. Hanya ada kalimat sepi. Bukankah kita akan selalu berdamai dalam senyap? Kata tak mampu lagi memaknaimu, tapi hati. Biarkan hati itu yang menuntun.
Sejuta teori akan datang dan pergi, sejuta kisah akan datang mengilhami, namun ada satu anak kunci yang menetap abadi: Sang Kekasih Hati, yang melalui cerminNya telah mempertemukan kita kembali dengan syukur. BagiNyalah, saya persembahkan karya ini.
Dan sekarang ijinkanlah saya tersungkur redam dalam rasa cinta…
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh
Makassar 15 MEI 2008
Penulis
*hayo...mirip ma siapa kata pengantarnya?hehe...yang nebak kukasih coklat deh...
heheh...ini untuk badak, keong dan siput!! rindu euy...