Rabu, 2008 November 19

TENTANG DUA LELAKI YANG SERING DIRIBUTKAN

1. GONDRONG (SATU)

Menurutku dia tergolong 'lelaki aneh', bukan 'manusia aneh'. Pikirkan : 'LELAKI ANEH'.
. tergolong ramah, lelaki kebanyakan normal jika dikarakterkan cuek
. sangat peduli persahabatan, setahuku lelaki biasa cenderung meremehkan persahabatan
. kukira lelaki menyukai anjing, tetapi dia... (baca dengan nada berbisik) suka kucing


2. SI GOKIL MP

Saya sudah bertemu aslinya. Mencengangkan! Pemalu, grogian, pendiam... Sungguh berbeda dengan postingan-postingannya di rumah mayanya. Bagus juga : hadirkanlah karakter lain di dalam tulisan Anda!
Yah, terkuburlah mimpi-mimpi saya akan tertawa, bercanda berlebih-lebihan dengan dirinya jika ketemu. He3!
Kejutan : aslinya lebih cakep daripada fotonya ;P

Minggu, 2008 November 02

UNTUK PARA MALAIKAT, terutama Putri Siput

MALAIKAT JUGA TAHU (Dewi 'DEE' Lestari, dalam album ost. RECTOVERSO)

Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku juga
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri

Meski seringkali kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri
Cintaku yang sejati

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Kau selalu meminta terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi
Karna tak sanggup sendiri

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu Aku kan jadi juaranya

Selasa, 2008 Oktober 21

VETRAN PRAJURIT JARI-JARI


Seorang gadis berperang dengan ingatannya, berusaha menghilangkan si ‘manis’. Apa salahnya si ‘manis’? Kau sendiri yang mencoba membelainya dan menginginkannya ‘mengeong’ untukmu. Kok malah kau sekarang yang jadi malu-malu kucing terhadapnya. Moga dia mengerti karena sebenarnya dia juga pencinta kucing. Hehehe!


Tak berfikirkah kau bahwa tempat itu yang telah mengakrabkan kita? SIPUT, KEONG dan BADAK tidak ada jika tak sering janjian ketemuan di sana….


Suatu hari nanti ketika si ‘manis’ hanya meletakkan kita di pinggiran ingatannya, saat kita kehilangan atau tak punya lagi nomor-nomor yang menghubungkan kita dengannya, saya akan datang ke tempat itu, duduk sedikit lama, tersenyum sendiri mengingat : ‘ada yang ditunggu’, ‘menunggu’ dan ‘selalu menasehati’. Tempat itu boleh saja menjelma jadi lain sekaligus bermerk lain pula, namun suara perkelahian kita dengan kotak-kotak huruf, ketukan-ketukannya akan berputar berulang di memoriku, sepersekian detik sesudahnya sebuah kalimat akan nongol di monitor : “DAK, online ko?”


---BADAK---

Tx 4 SALIMnet & crew….

Senin, 2008 Juli 21

KEPADA YANG dan AKAN SARJANA

Seorang mencari surat kabar

kelahiran dua hari lalu

disayapi dua teman

karena mungkin bertemu sabtu minggu saja

Si Keong, pindahan dari bangku kuliah ke kursi kantor

Si Siput, beberapa bulan lalu bebas dari pejara akademik

Si Badak masih diatur roster matakuliah

‘kerja’, ‘sarjana’ dan ‘kuliah’, begitu pencapan orang

Yang benar adalah :

‘mantan pengangguran’, ‘pengangguran’ dan ‘calon pengangguran’

100708

---badak---

Jumat, 2008 Mei 30

Kata Pengantar beda Bukan Kriminal Kan....!!!!!!!!!!!!!!!!!!

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh

Menulis adalah perjalanan menuju suatu kelahiran.

Karya yang dilahirkan ibarat air nan bergulir bebas di lereng perasaan dan pikiran. Ia dapat tertahan di semak. Ia bisa hinggap di akar yang merambat. Namun ia juga bisa menggelinding lancar untuk melebur dalam samudera luas. Tak ada yang dapat menghitung berapa ceruk di lereng itu. Tak ada yang tahu seberapa gerah tertumbuhannya di sana

Ia hanya akan mengalir….sebisanya.

Tak ada kekuatan maha dasyat yang mampu membuat semua dinamika dalam menulis itu tumbuh selain kekuatan Yang Maha Memiliki ALLAH Azizah Wa Jalla. Ia memberikan kekuatan pada seluruh dunia bahwa menulis adalah perjalanan yang hakiki, nafas yang tidak lagi berpangkal, dariNya-lah tulisan ini bersumber. Terkemuflase atas nama kekuatan pena…

Lalu, inilah saatnya hati membungkuk, menghamba pada kerelaan hati untuk mengucapkan lantunan terimakasih. Kepada kalianlah karya ini berasal dan bermuara;

1. Keluarga. Tak akan pernah putus doa untuk kalian. Bahwa kalimat terjujur adalah apa yang belum terilham sebagai kata. Ia mati dalam senyap, namun sejuta makna bergelut di dalamnya. Dengan suka cita, terimakasih ini mengharu-biru untukmu ibu. Untuk semua hal yang kau berikan padaku, untuk semua do’a yang dijabah olehNya, hanya bagimu ibu air mata bahagia ini mengalir. Kemudian sesak bahagia ini bermuara pada kasih Ayah yang selalu melindungi dengan sorot mata teduhnya, darinyalah ketenangan itu menyeruak. Lalu di ujung sungai bahagia ini ada dua adikku (Fachri Kurnia Bhakti dan Rendra Zulmi Febrianto Farera) yang selalu memberi arti tak tergantikan. Kalian mahluk sedarah yang aku cintai. Dan ijinkan aku tersungkur sekali lagi bersama bilur cinta dengan mengingat kalian….

2. Malaikat berubanku. Tahukah kau bahwa hati ini melekat bersama jiwamu? Bahwa cucumu ini tak lagi mampu mengungkapkan terimakasihnya dengan kata. Aqra sudah lulus nek, dan rasanya tak ingin berbuat apa-apa lagi, hanya ingin ada di dekatmu, menjagamu. Seperti yang kau lakukan dulu, menjagaku waktu kecil. Membesarkanku dalam rasa aman. Dan sekarang lihatlah, cucu kecilmu ini sudah bergeliat sendiri. Semuanya berkatmu nek.

3. Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin beserta Pembantu Dekan I, Pembantu Dekan II dan Pembantu Dekan III yang meskipun tidak secara langsung namun memberi banyak kontribusi terhadap penulis selama menjalani masa perkuliahan di Fakultas Hukum. Kepada beliaulah penulis berterimakasih.

4. Kepada Bapak S.M. Noor S.H., M.H. selaku Pembimbing I dan Bapak Maskun, S.H., LL.M. selaku Pembimbing II. Kepada mereka saya mengucapkan terimaksih yang tak terhingga. Atas semua waktu, bimbingannya, masukannya dan sikap “ngemong” yang membuat saya lebih termotivasi dalam menyelesaikan karya tulis ini. Juga atas maklumatnya terhadap keterbatasan saya selaku mahasiswa. Sekali lagi terimakasih dari hati saya ucapkan.

5. Dosen-dosen bagian Hukum Internasional, Prof. Alma Manuputty, S.H., M.H., Ibu Inneke Lihawa, S.H.,M.H., Pak Albert Lakollo, S.H.,M.H., Pak Masbaah Magasing, S.H., M.H., Pak La Ode Abdul Gani, S.H., M.H., Pak Abdul Rasal Rauf, S.H., M.H, Pak La Ode M. Syarif, Ibu Iin Sakarina, S.H.,M.H., Ibu Sutra, S.H.,LL.M, dan Ibu Birkah Latief, S.H. tak akan pernah cukup rasa terimakasih ini terucap untuk semua apa yang telah beliau-beliau berikan.

6. Semua dosen Fakultas Hukum UNHAS tak terkecuali yang namanya tak sempat penulis sebutkan satu per satu. Namun hal tersebut tidak mengurangi rasa hormat dan terimakasih penulis.

7. Untuk GK (Asriany GK, Nurhidayah GK, Asbiah GK, Fauziah GK, Rachmadian GK, Diah Sarita GK, dan Muthmainnah GK). Kita memang terpisah jarak dan tempat. Namun akan selalu ada cinta dan cita yang merekatkan kita. Karena kalian adalah bagian dari hati yang tak akan pernah terlupa. Kalian bukan kenangan, kalian adalah wajah yang memberi banyak makna dalam evolusi detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan jam menjadi hari. Kalian adalah warna dalam hari-hari itu dan akan selalu hidup di tempat tak terjamah dalam hati penulis.

8. Untuk patner hatiku. Terimakasih ini bersenandung. Inayah Mangkulla atas semua kekonyolan yang berujung pada tawa, untuk semua filosofi hidup yang kau perlihatkan, dan untuk semua dunia baru yang kau ajarkan (termasuk ngeblog di Multiply, hihihi). Kau punya banyak ruang di batok kepalaku, dan akan selalu begitu. Dewi Hidayati, si penyemangat yang tak pernah lelah, aku selalu kehabisan kata-kata untuk menggambarkanmu, mungkin terimakasih tak akan pernah cukup di’ wi’? Syarkia Mansyur, S.H. atas semua nasehat yang kadang olehku selalu tersepelekan, untuk semua diskusi “terpintar” yang kukira hanya kita berdua yang memilikinya, untuk semua jengkal ilmu yang kau jejakkan untukku, terimakasih ini tak akan pernah cukup, percayalah. Terakhir, patner hati yang selalu ngilang…hehehe…Asrawaty Purnama Satrya Negara, kau adalah sahabat yang memberi banyak arti, dalam ketidakberpihakanmu pada cerita aku menemukan banyak interprestasi tentang persahabatan kita. Kita tak perlu banyak waktu bersama, tapi aku yakin persahabatan kita ada. Patner hati, semoga kalian tak akan pernah lelah mengikutiku si siput yang selalu ngaret ini.

9. Untuk teman berbagi mimpiku. Henny Amir, kau adalah sumbu dalam kegamanganku, kau selalu mampu membuat hati berderai gerimis tawa. Suci Megawati, mungkin suatu saat aku akan berubah jahat dan mencuri semua semangatmu itu.

10. Teman-teman KKN yang tak pernah lapuk oleh waktu. Nur Qalbi, Pandu setiawan, Arnita, Dimitri, Sri Reski Amelia, Reza Alamsyah, Winda Triana, Itcianday, Sultan Hasanuddin, Amri Mapakkaya, Putri Ayu, Nur Fajri dan kak Deddy. Kita pernah melalui saat yang tak terlupakan kawan.

11. Semua anak-anak ANNISA, tidakkah kalian rindu bertemu “mak lampir” itu? Iya, aku rindu... tapi tak serindu bertemu kalian. Terimakasih atas semua kebaikannya Annisa Eka Fatmawati, Annisa Andi Nur Rahmah Ramli, Annisa Nani Anggraini, Annisa Kiky, Annisa Rabbiatul Wahdaniyah, Annisa Hasmayanti, Annisa Ulfa Seband (kau adalah sahabat yang tak akan terlupa), dan Annisa Mira Chivanda Putri (si peri periang yang selalu datang dengan kebahagian, aku rindu begadang semalaman suntuk bersamamau van…bercerita tentang kehebatan islam yang membuat bulu kuduk kita berdiri dan kemudian kita cepat-cepat solat subuh!!heheh).

12. Semua SAKSI angkatan 2004 yang tidak sempat penulis sebutkan.

13. Untuk patner mayaku, ALFIN WIJAYA yang sekarang terdampar di Perth Australia. Kita terpisah banyak hal Fin, jarak, waktu, dan umur. Namun saat bercerita aku merasa seperti dua keping koin identik yang entah terpisah oleh apa kembali bertemu dalam suasana syahdu, dan mulailah cerita itu mengalir. Terimakasih…semangatmu mendekatkan kita lebih dari sebelumnya. Mungkin suatu hari kita bisa bertemu. Biar yang Maha Pintar yang mengaturnya. AMIN.

14. Bang Arham Kendari. Meskipun konyol, tapi Bang Arham sangat layak mendengar senandung terimakasih ini. Penulis terlalu sering sekarat bersama jenuh saat harus begadang bersama skripsi yang jauh dari kelar. Kemudian benak menuntun, mendongkrak semangat dengan bergerilya liar di Multiply Bang Arham. Terima kasih Bang, terlalu banyak senyum yang dipatenkan mukaku saat bergelut bersama abjad demi abjad di site Multiply Bang Arham. Terimakasih sekali lagi.

15. Untuk Malaikat Tukang Ketawa Yang Manis. Tak ada kalimat-kalimat ajaib untukmu. Kau terlalu rumit untuk diutarakan. Hanya ada kalimat sepi. Bukankah kita akan selalu berdamai dalam senyap? Kata tak mampu lagi memaknaimu, tapi hati. Biarkan hati itu yang menuntun.

Sejuta teori akan datang dan pergi, sejuta kisah akan datang mengilhami, namun ada satu anak kunci yang menetap abadi: Sang Kekasih Hati, yang melalui cerminNya telah mempertemukan kita kembali dengan syukur. BagiNyalah, saya persembahkan karya ini.

Dan sekarang ijinkanlah saya tersungkur redam dalam rasa cinta…

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh

Makassar 15 MEI 2008

Penulis



*hayo...mirip ma siapa kata pengantarnya?hehe...yang nebak kukasih coklat deh...

heheh...ini untuk badak, keong dan siput!! rindu euy...

Jumat, 2008 Mei 23

GOMBALANku buat KEONG

“Setiap kau sampai pada hujan

buatlah payung dari tangan-tangan perempuan”(setiap sampai pada hujan, Aan Mansyur)


Akan kulanjutkan sajaknya….


Aku hanya ingin tangan-tanganmu, perempuan malaikatku…


-Pangeran Badak-




NB : KEONG, kamu kok baik sekali?

Ohohohoh! Sepertinya Pangeran jatuh cinta pada dua orang perempuan. Satu yang begitu bermanja kepadaku, satunya lagi berhati malaikat… Akankah saya berpoligami?

GOMBALANku buat SIPUT

Pangeran : “Ayo kita duduk-duduk sebentar!”

Putri : “Buat apa? Ini sudah malam Dak! Tidak ada becak nanti!”

Pangeran : “Kita lihat bulan dulu… (sambil menunjuk ke atas!) Kapan lagi kita berdua seperti ini. Kita tak lama lagi akan berpisah”

Putri : “Iya sih… Bulannya indah!”

Pangeran : (menoleh ke wajah Putri, tersenyum)

Putri : “Kenapa lu? Kayak orang gila! Atau ada yang lucu dengan mukaku?”

Pangeran : (tetap tersenyum, diam)

Putri : “Oh… kau menertawai jerawatku yah! Hu…hu…hu…!” (sambil memukulku!)

Dua-duanya terdiam… Pangeran masih melihat ke wajah Putri yang terus menutupi hidungnya yang menjelma mancung karena jerawat.

Pangeran : (tertawa kecil!) “Sungguh, lebih indah melihat purnama itu dari matamu!”

Posting Lama